Manaqiban (Manāqib)
a. Pengertian Manakiban
Manaqib berasal dari bahasa Arab, dari lafaz naqaba, naqabu, naqban, yang berasal menyelidiki, melubangi, memeriksa, dan menggali. Kata manaqib adalah jama dari lafaz manqibun yang merupakan isim makan dari lafaz naqaba.
Kata manakib merupakan kata jama dari manqabah mendapat akhiran an. Manqabah sendiri artinya babakan sejarah hidup seseorang. Dalam al-Munjid disebutkan:
Artinya: “Apa yang dikenal pada diri manusia tentang budi pekertinya yang terpuji dan akhlaknya yang baik”
Jama dari kata manqabah adalah manāqib. Dalam tradisi bahasa sunda kata manaqib ditambah dengan an sehingga bacaannya menjadi manaqiban yang mengandung arti proses pembacaan penggalan hidup seseorang secara spiritual. Manaqib dalam TQN adalah manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sebagai pendiri tariqat Qadiriyyah. Isi manaqib secara khusus menceritakan akhlak Tuan Syaikh, silsilahnya, kegiatan dakwahnya, karomahnya dan lain-lainnya yang relevan untuk dijadikan pelajaran oleh para pengikutnya.
Di dalam al-Quran sendiri terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang kisah-kisah orang-orang tertentu. Ada kisah para Nabi, kisah para rasul, umat terdahulu para wali dan lain-lain. Dalam surat al-Mukmin ayat 78 disebutkan:
Dalam surat an-Nisa ayat 164 Allah berfirman:
ورسلا من قصصناهم عليك من قبلك ورسلا لم نقصصهم عليك
Dan Kami telah mengutus para rasul, telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kiahkan tentang mereka kepadamu (an-Nisa: 164)
Manaqiban dalam TQN merupakan amalan syahriyyah artinya amalan yang harus dilakukan minimal satu bulan satu kali. Biasanya materi manakiban terbagi pada dua bagian penting. Pertama, materi (kontens) tentang hidmah ‘amaliyah. Hidmah amaliyah ini adalah inti manakiban itu sendiri. Substansi ajarannya ialah meliputi:
1. Pembacaan ayat suci al-Quran
2. Pembacaan Tanbih
3. Pembacaan Tawassul
4. Pembacaan manqabah Syaikh ‘Abdul Qadior al-Jilani
5. Do’a
6. Tutup
Kedua, hidmah ‘ilmiyyah. Maksud hidmah ‘ilmiyyah adalah pembahasan tasawuf secara keilmuan dan pembahasan aspek-aspek ajaran Islam secara kesuluruhan. Tujuannya adalah untuk membuka wawasan keislaman para ikhwan, memperdalam ilmu ketasawufan, dan memotivasi para ikhwan agar semakin rajin (konsisten) melakukan amalan ajaran Islam khususnya amalan TQN.
b. Tujuan Manakiban
Banyak tujuan yang hendak dicapai dengan mengikuti manaqiban. Pada umumnya tujuan-tujuan manaqiban adalah hal-hal sebagai berikut:
a. Mencintai dan menghormati zurriyyah (keturunan) Rasulullah saw.
Allah berfirman:
Seseorang yang mencintai atau menghormati kepada sesama keluarga dipuji Allah, apalagi mencintai dan menghormati keluarga Rasulullah saw.
b. Mencintai para ulama, salihin dan para wali.
Nabi bersabda:
Artinya: “Siapa saja yang memusuhi wali-Ku maka aku umumkan perang kepadanya”
Hadis di atas melukiskan secara jelas bahwa Allah mengancam dengan tegas akan memerangi kepada siapa saja yang memusuhi wali-Nya. Sebaliknya tentu saja Allah mencintai kepada siapa siapa saja yang mencintai wali-Nya.
c. Mencari barkah dan syafa’at dari Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.
“Rasulullah telah melihat bahwa Ummu Sulaim sedang mengumpulkan keringat Nabi dalam suatu tempat, sewaktu Nabi sedang tidur, tiba-tiba Nab terbangun seraya berkata: “Apa yang engkau kerjakan hai Ummu Sulaim?” Ia menjawab: Keringatmu ini akan aku jadikan wangi-wangian yang paling harum”. Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa Umu Sulaim menjawab: “ya Rasulullah: Aku berharap barkahnya keringatmu ini untuk anak-anakku”. Berakatalah Nabi kepada Ummu Sulaim dengan pernyataan yang penuh kesungguhan sambil memuji” Silahkan” (Bukhari Muslim dan Nasa’i)
d. Bertawassul dengan tuan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani karena Allah semata.
Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan kepada-Nya dan berjuanglah kamu di jalan Allah supaya kamu menjadi orang yang beruntung”
(al-Maidah: 35).
e. Melaksnakan nazar karena Allah semata, bukan karena maksiat. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi saw.
Disamping maksud-maksud sebagai tertulis di atas, ada juga yang dengan manaqiban mempunyai tujuan-tujuan lain, misalnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, membaca tasbih, tahlil, berzikir membaca salawat dan lain-lain.
Di dalam kitab al-Lujain ad-Dani karya al-Bazanji diutarakan secara rinci bahwa tujuan manaqib adalah sebagai berikut:
a) Untuk bertawassul dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dengan harapan agar permohonannya dikabulkan oleh Allah dan dilakukan atas dasar keimanan kepada Allah Swt semata.
b) Untuk melaksnakan nazar karena Allah semata, bukan karena maksiat.
c) Untuk memperoleh barkah dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
d) Untuk mencintai, menghormati dan memuliakan para ulama salaf as-salihin, auliya, syuhada dan lain-lain.
e) Memuliakan dan mencintai zurriyyah Rasulullah saw. Ahl al-Bait atau keluarga dan zurriyyah Rasulullah saw sangat dimuliakan oleh Allah dengan menghilangkan dosa-dosa mereka sehingga tetap terpelihara kesuciannya. Allah berfirman:
4. Riyādoh
Riyadoh secara etimologis artinya latihan. Dalam term tasawuf yang dimaksud riyadoh adalah latihan rohani dengan cara-cara tertentu yang lazim dilakukan dalam dunia tasawuf. Dalam tradsisi TQN, riyadoh yang paling utama adalah zikrullah. Tetapi ketika zikrullah sudah menjadi amalan yang dilakukan secara istiqamah setiap ba’da salat fardu, seorang salik boleh meminta kepada guru (mursyid) tambahan amalan-amalan untuk memperkokoh keimanannya, mempermudah mencapai cita-cita hidupnya, dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam kehidupannya. Riyadoh yang biasa diberikan Syaikh Mursyid secara sistimatis mulai dari belajar mandi taubat, mandi malam selama empat puluh hari dengan doa’a do’a tertentu, belajar melaksanakan puasa-puasa sunat, belajar melek (tidak tidur beberapa hari, baik siang ataupun malam), mandi kemanusiaan, niis (tidak makan makhluk yang bernyawa) sperti daging, telor, ikan dan yang lainnya, ijazah saefi (hizbul Yaman) dan lain-lain. Semua amalan riyadoh tadi dilakukan dibawah bimbingan dan pengawasan guru mursyid, atau orang yang ditunjuk oleh guru, bisa dari salah seorang wakil talqin atau putra tertuanya sendiri yaitu as-Syaikh Dudun Nursaiduddin.
a. Pengertian Manakiban
Manaqib berasal dari bahasa Arab, dari lafaz naqaba, naqabu, naqban, yang berasal menyelidiki, melubangi, memeriksa, dan menggali. Kata manaqib adalah jama dari lafaz manqibun yang merupakan isim makan dari lafaz naqaba.
Kata manakib merupakan kata jama dari manqabah mendapat akhiran an. Manqabah sendiri artinya babakan sejarah hidup seseorang. Dalam al-Munjid disebutkan:
ما عرف به من الخصال الحميدة و الاخلاق الجميلة
Artinya: “Apa yang dikenal pada diri manusia tentang budi pekertinya yang terpuji dan akhlaknya yang baik”
Jama dari kata manqabah adalah manāqib. Dalam tradisi bahasa sunda kata manaqib ditambah dengan an sehingga bacaannya menjadi manaqiban yang mengandung arti proses pembacaan penggalan hidup seseorang secara spiritual. Manaqib dalam TQN adalah manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jilani sebagai pendiri tariqat Qadiriyyah. Isi manaqib secara khusus menceritakan akhlak Tuan Syaikh, silsilahnya, kegiatan dakwahnya, karomahnya dan lain-lainnya yang relevan untuk dijadikan pelajaran oleh para pengikutnya.
Di dalam al-Quran sendiri terdapat ayat-ayat yang menjelaskan tentang kisah-kisah orang-orang tertentu. Ada kisah para Nabi, kisah para rasul, umat terdahulu para wali dan lain-lain. Dalam surat al-Mukmin ayat 78 disebutkan:
ولقد ارسلنا رسلا من قبلك منهم من قصصنا عليك ومنهم من لم نقصص عليك
Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul sebelum kamu, sebagian dari mereka telah Aku ceritakan kepadamu dan sebagian lainnya belum Aku kisahkan kepadamu (al-Mukmin: 78).Dalam surat an-Nisa ayat 164 Allah berfirman:
ورسلا من قصصناهم عليك من قبلك ورسلا لم نقصصهم عليك
Dan Kami telah mengutus para rasul, telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kiahkan tentang mereka kepadamu (an-Nisa: 164)
Manaqiban dalam TQN merupakan amalan syahriyyah artinya amalan yang harus dilakukan minimal satu bulan satu kali. Biasanya materi manakiban terbagi pada dua bagian penting. Pertama, materi (kontens) tentang hidmah ‘amaliyah. Hidmah amaliyah ini adalah inti manakiban itu sendiri. Substansi ajarannya ialah meliputi:
1. Pembacaan ayat suci al-Quran
2. Pembacaan Tanbih
3. Pembacaan Tawassul
4. Pembacaan manqabah Syaikh ‘Abdul Qadior al-Jilani
5. Do’a
6. Tutup
Kedua, hidmah ‘ilmiyyah. Maksud hidmah ‘ilmiyyah adalah pembahasan tasawuf secara keilmuan dan pembahasan aspek-aspek ajaran Islam secara kesuluruhan. Tujuannya adalah untuk membuka wawasan keislaman para ikhwan, memperdalam ilmu ketasawufan, dan memotivasi para ikhwan agar semakin rajin (konsisten) melakukan amalan ajaran Islam khususnya amalan TQN.
b. Tujuan Manakiban
Banyak tujuan yang hendak dicapai dengan mengikuti manaqiban. Pada umumnya tujuan-tujuan manaqiban adalah hal-hal sebagai berikut:
a. Mencintai dan menghormati zurriyyah (keturunan) Rasulullah saw.
Allah berfirman:
قل لا اسالكم عليه اجرا الا المودة في القربي
Artinya: Sesunguhnya Aku tidak meminta kepadamu sesuatu apapun atas seruan-Ku, kecuali kamu berkasih sayang terhadap keluarga (QS. As-Syura: 23). Seseorang yang mencintai atau menghormati kepada sesama keluarga dipuji Allah, apalagi mencintai dan menghormati keluarga Rasulullah saw.
b. Mencintai para ulama, salihin dan para wali.
Nabi bersabda:
من عادي لي وليا فقد اذنته بالحرب (رواه البخاري)
Artinya: “Siapa saja yang memusuhi wali-Ku maka aku umumkan perang kepadanya”
Hadis di atas melukiskan secara jelas bahwa Allah mengancam dengan tegas akan memerangi kepada siapa saja yang memusuhi wali-Nya. Sebaliknya tentu saja Allah mencintai kepada siapa siapa saja yang mencintai wali-Nya.
c. Mencari barkah dan syafa’at dari Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.
“Rasulullah telah melihat bahwa Ummu Sulaim sedang mengumpulkan keringat Nabi dalam suatu tempat, sewaktu Nabi sedang tidur, tiba-tiba Nab terbangun seraya berkata: “Apa yang engkau kerjakan hai Ummu Sulaim?” Ia menjawab: Keringatmu ini akan aku jadikan wangi-wangian yang paling harum”. Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa Umu Sulaim menjawab: “ya Rasulullah: Aku berharap barkahnya keringatmu ini untuk anak-anakku”. Berakatalah Nabi kepada Ummu Sulaim dengan pernyataan yang penuh kesungguhan sambil memuji” Silahkan” (Bukhari Muslim dan Nasa’i)
d. Bertawassul dengan tuan Syaikh Abdul Qadir al-Jilani karena Allah semata.
Allah berfirman:
يا ايهاالذين امنوا اتقوالله وابتغوا اليه الوسيلة وجاهدوا في سبيله لعلكم تفلحون
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan kepada-Nya dan berjuanglah kamu di jalan Allah supaya kamu menjadi orang yang beruntung”
(al-Maidah: 35).
e. Melaksnakan nazar karena Allah semata, bukan karena maksiat. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi saw.
من نذر ان يطيع الله فليطعه ومن تذر ان يعصيه فلا يعصيه ( رواه البخاري )
“Barang siapa bernazar untuk taat kepada Allah taatlah, dan barang siapa yang bernazar untuk ma’siat kepada Allah maka janganlah ia berma’siat” Disamping maksud-maksud sebagai tertulis di atas, ada juga yang dengan manaqiban mempunyai tujuan-tujuan lain, misalnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, membaca tasbih, tahlil, berzikir membaca salawat dan lain-lain.
Di dalam kitab al-Lujain ad-Dani karya al-Bazanji diutarakan secara rinci bahwa tujuan manaqib adalah sebagai berikut:
a) Untuk bertawassul dengan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dengan harapan agar permohonannya dikabulkan oleh Allah dan dilakukan atas dasar keimanan kepada Allah Swt semata.
b) Untuk melaksnakan nazar karena Allah semata, bukan karena maksiat.
c) Untuk memperoleh barkah dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
d) Untuk mencintai, menghormati dan memuliakan para ulama salaf as-salihin, auliya, syuhada dan lain-lain.
e) Memuliakan dan mencintai zurriyyah Rasulullah saw. Ahl al-Bait atau keluarga dan zurriyyah Rasulullah saw sangat dimuliakan oleh Allah dengan menghilangkan dosa-dosa mereka sehingga tetap terpelihara kesuciannya. Allah berfirman:
انما يريد الله ليذهب عنكم الرجس اهل البيت ويطهركم تطهيرا
“…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahl al-Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya (al-Ahzab: 33) 4. Riyādoh
Riyadoh secara etimologis artinya latihan. Dalam term tasawuf yang dimaksud riyadoh adalah latihan rohani dengan cara-cara tertentu yang lazim dilakukan dalam dunia tasawuf. Dalam tradsisi TQN, riyadoh yang paling utama adalah zikrullah. Tetapi ketika zikrullah sudah menjadi amalan yang dilakukan secara istiqamah setiap ba’da salat fardu, seorang salik boleh meminta kepada guru (mursyid) tambahan amalan-amalan untuk memperkokoh keimanannya, mempermudah mencapai cita-cita hidupnya, dan mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam kehidupannya. Riyadoh yang biasa diberikan Syaikh Mursyid secara sistimatis mulai dari belajar mandi taubat, mandi malam selama empat puluh hari dengan doa’a do’a tertentu, belajar melaksanakan puasa-puasa sunat, belajar melek (tidak tidur beberapa hari, baik siang ataupun malam), mandi kemanusiaan, niis (tidak makan makhluk yang bernyawa) sperti daging, telor, ikan dan yang lainnya, ijazah saefi (hizbul Yaman) dan lain-lain. Semua amalan riyadoh tadi dilakukan dibawah bimbingan dan pengawasan guru mursyid, atau orang yang ditunjuk oleh guru, bisa dari salah seorang wakil talqin atau putra tertuanya sendiri yaitu as-Syaikh Dudun Nursaiduddin.
0 Komentar untuk "Manaqiban (Manāqib) dan tata cara pelaksanaaannya hikmahnya dan tujuannya"